Asal-Usul Filosofi Masyarakat Fakfak “Satu Tungku Tiga Batu”.
Cari Berita

banner fix 2019

banner fix 2

Asal-Usul Filosofi Masyarakat Fakfak “Satu Tungku Tiga Batu”.

Sunday, August 25, 2019

Foto Tugu satu tungku tiga batu, sebelum di rusak.

    Kamiupdate.com -  Di kota pala Fakfak filosofi ini sangat di kenal. Munculnya filosofi masyarakat Fakfak “satu tungku tiga batu” terintegrasi dengan struktur sosial dan letak geografis wilayah Fakfak dimana sejak dahulu kala kota ini terkenal dengan sebutan “Jazirah Onim dan/ atau Jazirah Mbaham”. Atas dasar itu maka dari segi asal usulnya, masyarakat Fakfak terdiri dari dua suku besar, yaitu suku Iha mewakili masyarakat di bagian gunung/ pedalaman dan suku Onin yang mewakili masyarakat di daerah pesisir. Masyarakat yang tinggal dan hidup di wilayah pegunungan kemudian disebut sebagai “suku Mbaham”, sementara masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir di sebut dengan “suku Mata”, sehingga perpaduannya adalah “suku Mbahammata”dan sebagai sebutan resmi bagi masyarakat Fakfak.



    Hampir sebagian besar masyarakat pesisir menganut agama Islam, sementara suku Iha sebagian menganut Kristen. Di sinilah asal mula kehidupan masyarakat Fakfak yang mempunyai hubungan darah sejak zaman dahulu kala dikarenakan adanya perkawinan antara laki laki dari Suku Iha
dengan perempuan dari Suku Onin, begitupun sebaliknya.

  Filosofi “satu tungku tiga batu” diperkenalkan oleh salah satu tokoh masyarakat Fakfak, Bapak Alibaham Temongmere, sebagai orang yang menggagas konsep falsafah hidup dalam bingkai Satu Tungku Tiga Batu mengatakan bahwa banyak orang yang menyebarkan agama Islam di Papua yang hanya merupakan label untuk menyampaikan dakwah Islam. Sebelumnya Islam sudah ada di Fakfak.


    Keterangan tentang ini sebagaimana tulisannya dalam sebuahartikel dengan judul “hubungan antar agama masyarakat Fakfak”terdapat penjelasan atas penuturan tokoh masyarakat Fakfak tersebut, antara lain; hal yang paling nyata terlihat pada saat napak tilas masuknya Katolik di Fakfak bahwa yang menerima Pastor Lekoq sebagai orang Katolik Pertama di Papua adalah warga Fakfak yang beragama Islam di daerah Sekru. Kemudian ia dibawa ke saudara-saudara mereka yang pada waktu itu belum beragama untuk menerima Katolik.



    Di daerah Sakartemen para orang tua yang menerimanya, dengan bahasa yang sangat sederhana, mengatakan, “Ini hal yang baik. Jika demikian, kita berikan kepada Saudara kita yang belum beragama karena kita sudah beragama Islam.” Kenapa hal ini bisa terjadi dikarenakan mereka mempunyai keluarga yang ada di daerah pedalaman Fakfak. Oleh karena itu, sudah sering kita lihat di Fakfak ada satu keluarga, tetapi terdiri dari tiga agama.



   Salah satu kebiasaan masyarakat Fakfak yang juga sebagai implementasi dari filosofi “satu tungku tiga batu” adalah saling tolong menolong dan kerjasama. Tolong menolong dan kerjasama yang dilakukan dalam hal ini selain dalam bentuk yang lumrah sebagaimana biasanya ketika warga yang lain sedang berhajat, yang terpenting adalah saling tolong menolong dan kerjasama dalam membangun tempat ibadah baik pembangunan gereja maupun masjid termasuk menjadi panitia pelaksananya (yang beragama Kristen menjadi panitia pembangunan masjid, sebaliknya yang beragama Islam menjadi panitia pembangunan gereja). Demikian ringkasan tentang asal-usul Filosofi Masyarakat Fakfak “Satu Tungku Tiga Batu”.