Mengenal 4 Pulau Terluar Indonesia Yang Berada di Pulau Papua
Cari Berita

Iklan

Advertisement

Iklan

Mengenal 4 Pulau Terluar Indonesia Yang Berada di Pulau Papua

ALDI BIMANTARA
Thursday, July 18, 2019



KamiUpdate.com-Jayapura Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa  terdapat 4 pulau terluar yang berada di Provinsi Papua yaitu Pulau Brass, Fanildo, Bepondi, dan Liki. Keempat pulau tersebut merupakan pulau terluar yang dimiliki oleh Indonesia dengan kondisi berpenduduk dan tidak berpenduduk. Untuk rincian lebih jelasnya terkait keempat pulau terluar yang berada di Provinsi Papua tersebut dapat disimak pada uraian di bawah ini:

1)      Pulau Liki
        Pulau Liki adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudera pasifik dan berbatasan dengan Negara Papua Nugini. Pulau Liki ini merupakan pulau paling timur dari wilayah RI dan merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Pulau ini berada di sebelah utara dari Pulau Papua dengan dengan koordinat 1˚ 34’ 26’’ LS, 138˚ 42’ 57’’ BT. Pulau Liki sendiri termasuk pulau terluar yang berpenghuni, menurut data tahun 2017 dari BAPPEDA Provinsi Papua pulau ini dihuni oleh 263 jiwa dengan 53 Kepala Keluarga. Di Pulau Liki terdapat 3 marga yang hidup berdampingan yaitu teno,kiman, dan weirau. Setiap marga mempunyai wilayah tersendiri di Pulau Liki tersebut. Marga Teno berada di bagian selatan, Kiman di bagian barat, dan Weirau di bagian tengah. Sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai nelayan dan memang pulau ini memiliki sumber daya laut yang melimapah. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam biota laut yang hidup yang dimungkinkan karena kondisi terumbu karang yang terjaga serta arus bawah laut yang kuat. Selain alam bawah lautnya yang indah, Pulau Liki juga mempunyai potensi lain yang belum sepenuhnya terkelola seperti air terjun, hutan pantai, serta pantainya yang berpasir putih menjadi daya Tarik tersendiri yang perlu dikembangkan.

2)      Pulau Fanildo
        Pulau Fanildo adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudera Pasifik dan berbatasan dengan Negara Palau. Pulau Fanildo ini merupakan bagian dari wilayah pemerintahan Kabupaten Supiori, Provinsi Papua. Pulau ini berada di sebelah utara dari Kota Manokwari dengan koordinat 0˚ 56’ 22’’ LU, 134˚ 17’ 44’’ BT dan status Fanildo ini adalah tidak berpenduduk dengan luas wilayah sebesar ±0,1 KM2 . Pulau Fanildo merupakan gugusan dari Kepulauan Mapia yang berbatasan dengan Republik Palau, jarak antara Pulau Fanildo dengan Pulau Babelthuap (Republik Palau) adalah sejauh 390 mil.
        Gugusan kepulauan Mapia atau Pegun (332 ha), Pulau Fanildo dan Berasi (309 ha), Pulau Fanildo Kecil (6 ha), Pulau Fanildo atau Faniroto (50 ha) dan Fanildo kecil (4 ha). Seperti pulau terluar lainnya, pulau dengan luas ± 0,1 KM2 ini memiliki titik dasar dan titik referensi yaitu TD.072 dan TR.072. Pulau Fanildo masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Mapia, Distrik Supiori barat, Kabupaten Supiori Provinsi Papua. Pulau ini merupakan satu kesatuan yang terhubung oleh hamparan pantai pasir putih yang dilingkari karang seluas 37.760 hektar dengan laguna ditengahnya seluas 3.000 M2 dan memiliki kedalaman laguna berkisar antara 5-22 meter dengan kanal atau alur yang berada di sisi barat. Pulau Fanildo merupakan suatu pulau yang terbentuk sebagai coral cay atau vegetated sand cay hal ini diperlihatkan seluruh pembentukan pulau tersebut berasal dari material biogenik dari terumbu itu sendiri. Perubahan kedalaman yang sangat drastis dan cliff-slope yang mengelilingi pulau-pulau tersebut memberikan gambaran bahwa pulau tersebut diperkirakan pulau karang yang terangkat. Terbentuknya laguna menjadikan salah satu indikasi proses pengangkatan tersebut.
           Pulau Fanildo memiliki kekhususan bahwa seluruh pulau ini bervegetasi pohon kelapa. Pada perairan sekitar pulau Fanildo ditemukan kelengkapan ketiga ekosistem yaitu ekosistem mangrove, rumput laut, dan terumbu karang. Keberadaan ketiga pulau yang dikelilingi rataan terumbu menjadikan ketiga pulau tersebut relatif aman dari proses abrasi pantai. Kondisi air tawar di Pulau Fanildo sebagian air berasa payau dan tawar.
           Pulau Fanildo dapat dicapai dari Jakarta dengan menggunakan pesawat udara dan kapal laut, dengan rute Jakarta – Biak – Fanildo/Mapia. Pulau Fanildo dapat diakses dengan menggunakan perahu motor (speed boat) dari Kabupaten Biak Numfor. Adapun jarak Pulau Fanildo dengan Kota Biak adalah 150 mil dan dapat dicapai dengan kapal motor. Lamanya waktu perjalanan dari Kota Biak dengan menggunakan perahu motor carteran berkekuatan 320 Pk menuju Pulau Fanildo secara reguler dilayani oleh 2 kapal perintis yang senantiasa berlayar menuju Kepulauan Mapia atau Pulau Fanildo dengan jadwal sebulan sekali dengan waktu tempuh kurang lebih 25 jam dari Kota Biak.
           Pulau Fanildo memiliki 21 keanekaragaman karang batu yang terdiri dari 13 genus dan 9 famili. Famili karang batu dengan jumlah jenis terbanyak adalah dari famili Acroporidae (3 jenis), kemudian Mileopora dan Porites masing-masing 2 jenis, sedangkan famili yang lainnya masing-masing 1 jenis. Fakta ini memberikan indikasi yang jelas bahwa kekayaan atau variasi jenis karang di Pulau Fanildo rendah. Ekosistem padang lamun di Pulau Fanildo dapat ditemukan di sepanjang perairan pantai dan jenis yang sering ditemukan antara lain Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata dan Halodule pinifolia dan diperkirakan masih banyak jenis yang belum tercatat. Melimpahnya sumber daya alam , beragamnya ekosistem pesisir dan kehadiran panorama alam yang indah di kawasan pulau ini menjadikan tingginya peluang pengembangan investasi di kawasan ini. Peluang investasi yang dapat dikembangkan antara lain pengembangan usaha perikanan seperti usaha perikanan tangkap dari jenis-jenis ikan tuna, Ikan Cakalang, Ikan Tenggiri, ikan-ikan laut dalam, Ikan Kerapu, Ikan Kakap, udang lobster, maupun usaha budidaya kerapu dalam keramba apung yang didukung oleh keberadaan laguna.
           Wisata bahari yang dapat dikembangkan di Pulau Fanildo adalah  wisata selam (diving) dan snorkeling serta memancing, tak lupa juga wisata sejarah dan budaya. Kondisi pantai di pulau ini yang memiliki hamparan pantai pasir putih yang luas dan sangat mendukung pengembangan wisata pantai. Sebagai pendukung dalam pengembangan sektor ekonomi di bidang perikanan dan wisata yang terkait erat hubungannya, maka sangat diperlukan pengembangan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana yang dimaksud seperti ketersediaan perhubungan dalam hal ini dermaga, telekomunikasi (nir kabel), pendidikan (SDM), perumahan, kesehatan (tenaga medis), dan air bersih. Selain hal-hal tersebut, perlu juga untuk dilakukan rekonstruksi dan pemeliharaan titik referensi dari titik dasar, perlu adanya pengawasan oleh aparat pemerintah dan perlunya dibangun pelindung pantai dari ancaman abrasi dengan menanam pohon pelindung. Pada penjelasan yang disampaikan oleh LIPI terkait ekspedisi pulau-pulau terluar nusa manggala tersebut, juga diberikan data tata ruang oleh BAPPEDA Provinsi sebagai gambaran awal sebelum tim melakukan survei pada waktu yang sudah ditentukan.

3)      Pulau Brass
           Pulau Brass adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudera Pasifik dan berbatasan dengan Negara Palau. Pulau Bras ini merupakan bagian dari wilayah Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua yang memiliki luas wilayah sebesar ±3,4 KM2. Pulau ini berada di sebelah utara Kota Manokwari dengan koordinat 0˚ 55’ 57’’ LU, 134˚ 20’ 30’’ BT dengan kondisi berpenduduk. Tercatat dalam data BAPPEDA Provinsi Papua bahwa Pulau Brass memiliki 40 kepala keluarga dan satu pleton Satuan Tugas Pengamanan Pulau Terluar (SATGASPAM) Marinir TNI AL. Penduduk Pulau Brass berasal dari Biak, awalnya mereka mendiami Pulau Pegun namun, karena adanya wabah lalat yang menjangkiti pulau tersebut akhirnya penduduknya berpindah ke Pulau Brass. Adapun diketahui diare dan muntaber merupakan penyakit yang ditimbulkan wabah tersebut. Pulau Brass termasuk dalam wilayah administrasi Distrik Supiori Barat, Kabupaten Supiori Provinsi Papua. Tingginya keanekaragaman biota laut dan masih terpeliharanya ekosistem yang ada di Kepulauan Mapia memberikan peluang pengembangan industri wisata, baik wisata alam, budaya dan peninggalan sejarah perang dunia II.

4)      Pulau Bepondi
           Pulau Bepondi adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudera Pasifik dan berbatasan dengan Negara Palau. Pulau Bepondi merupakan bagian dari wilayah pemerintahan Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua dengan luas wilayah sebesar ±2,5 KM2. Berdasarkan letak astronomis, Pulau Bepondi berada di sebelah utara Pulau Biak dengan koordinat 0˚ 23’ 38’’ LS, 135˚ 16’ 27’’ BT. Adapun jumlah penduduk yang tinggal di pulau ini tidak tetap, hal ini disebabkan karena masyarakat yang masih memilki mata pencaharian yang tidak tetap.

              Adapun selain keempat pulau diatas yang berada di wilayah administrasi Provinsi Papua dan termasuk di dalam projek tersebut, dalam projek ekspedisi pulau-pulau terluar nusa manggala tersebut juga akan melakukan ekspedisi ke pulau-pulau terluar lainnya di Indonesia timur seperti Pulau Yiew di Maluku utara, Pulau Budd, Fani, dan Miosso di Provinsi Papua barat. Dari sisi keamanan, jelas bahwa pulau-pulau terluar yang berbatasan perairan dengan negara-negara tetangga Indonesia di Kawasan Samudera Pasifik seperti Negara Palau dan Papua Nugini adalah merupakan beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang perlu penanganan serius dari pemerintah pusat karna menyangkut kedaulatan negara dan juga amanat nawacita bapak presiden untuk membangun dari pinggiran termasuk pulau-pulau terluar di Indonesia timur.

              Jika dilihat dari segi sosial dan kependudukan jelas bahwa dari pulau-pulau terluar tersebut, ada yang memiliki penduduk tetap dan juga ada yang tidak berpenduduk. Hal ini harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah daerah maupun pusat karena pulau-pulau terluar yang memiliki penduduk, biasanya kondisi hidup mereka sangat tertinggal karena mata pencaharian yang tidak tetap dan pemenuhan kebutuhan hidup yang sulit karena terkendala aksesibilitas dalam hal ini transportasi menuju pulau utama yang menjadi sentra ekonomi masyarakat. Masalah aksesibilitas dan pemberdayaan masyarakat pesisir adalah 2 persoalan yang menjadi tantangan bagi pemerintah setempat untuk memajukan daerah pesisir khususnya pulau-pulau terluar yang berpenduduk. 

.
           Provinsi Papua sendiri memiliki 4 pulau terluar yang berbatasan perairan dengan negara tetangga yaitu Pulau Brass, Fanildo, Bepondi dan Liki. Menurut data tahun 2017 dari BAPPEDA Provinsi Papua, terdapat 3 pulau terluar yang berpenduduk yaitu Pulau Brass, Bepondi dan Liki. Kondisi sarana dan prasarana di ketiga pulau tersebut sangat memprihatinkan karena belum memiliki jalan beraspal, penerangan yang memadai, dan fasilitas MCK yang tidak memenuhi standar. Sebagai gambaran kondisi masyarakat pinggiran yang pada umumnya memiliki mata pencaharian yang tidak tetap juga dapat ditemui di 2 pulau terluar Indonesia tersebut, yakni di pulau Brass dan Bepondi.
              Hal ini mengakibatkan kondisi perekonomian masyarakat yang buruk, selain itu juga kendala lainnya ialah aksesibilitas. Dalam hal ini akses transportasi dari dan menuju ke pulau utama yang merupakan sentra ekonomi, dirasa sulit untuk dijangkau oleh masyarakat. Berangkat dari latar belakang mengusung nawacita Presiden yang dimana menyebutkan bahwa sudah saatnya membangun dari pinggiran termasuk pulau-pulau terluar adalah suatu semangat baru bagi LIPI dalam hal ini bagian Pusat Penelitian Oseanografi untuk melakukan survei dan penelitian dengan tujuan memenuhi data baseline untuk menunjang pengelolaan sumber daya pesisir di pulau-pulau kecil terluar yang berada di kawasan Samudera Pasifik.  Kemudian yang menjadi suatu tantangan ketika tim akan melakukan survei ke empat pulau terluar yang berada di wilayah administrasi Provinsi Papua yaitu keterbatasan data yang dimiliki sebagai gambaran awal terkait kondisi keempat pulau terluar tersebut. Hal ini yang menjadi dasar pertemuan antara LIPI dan BAPPEDA Provinsi Papua, guna duduk bersama dan berdiskusi terkait projek ekspedisi pulau-pulau terluar nusa manggala tersebut. Dalam pembahasan terkait keempat pulau tersebut, RTRW Provinsi Papua menajdi acuan penting dalam setiap langkah yang akan diambil oleh LIPI untuk melakukan kajian ilmiah di keempat pulau terluar tersebut agar terjadi sinkronisasi.