Sejarah Panjang di Bumi Mbaham Matta, Pala dan Satu Tungku Tiga Batu
Cari Berita

Iklan

Advertisement

Iklan

Sejarah Panjang di Bumi Mbaham Matta, Pala dan Satu Tungku Tiga Batu

ALDI BIMANTARA
Thursday, March 14, 2019



KamiUpdate.com-Manokwari Hampir seluruh daerah di Indonesia mempunyai keunikan tersendiri dan keunikan tersebut biasanya dilembagakan dan dijadikan sebagai semboyan, filosofi dan pandangan hidup termasuk di daerah Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat yang terkenal dengan filosofinya “satu tungku tiga batu”. Filosofi satu tungku tiga batu merupakan falsafah dan pandangan hidup yang mengilhami dan menginspirasi masyarakat Fakfak dalam bingkai hubungan kerukunan antar umat beragama, saling menghormati antara sesama penganut agama, kerjasama dan tolong menolong  serta dalam pembangunan sehingga sering dijadikan model dan contoh bagi masyarakat di daerah lainnya termasuk luar negeri untuk mempelajari filosofi masyarakat ini dan dijadikan sebagai rujukan dalam membangun masyarakat dan daerahnya. Filosofi masyarakat Fakfak ini telah diletakkan dasarnya oleh leluhur sejak dahulu kala bersamaan dengan sejarah masuknya agama-agama di tanah Papua serta adanya proses dan dinamika hidup yang terjalin antara sesama masyarakat yang telah menganut agama tersebut. Terkait dengan proses dan dinamika kehiduapan maka daerah Fakfak sudah terkenal sebagai wilayah sasaran para pencari rempah-rempah karena memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah dan belum tersentuh sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencari dan pengumpul rempah-rempah untuk mengunjungi sekaligus melihat lebih dekat kehidupan masyarakat Fakfak. Selain itu daerah ini (Fakfak) dan Papua secara keseluruhan juga menjadi daerah tujuan perdagangan dengan saudagar dari luar karena memiliki komoditas yang memiliki nilai jual dan nilai ekonomi yang layak untuk diperdagangkan (Wanggai, 2008). Bahkan dikala itu para penjelajah dari Eropa juga telah mengadakan perjalanan (jelajah) di daerah Fakfak dan Papua, misalnya pada tahun 1526 Gubernur Portugal pertama di Maluku bernama Jorge de Menesez mengunjungi Pulau Waigeo (Raja Ampat). Tahun 1545, Kapten Ynigo Ortiz de Retez dari Spanyol mencapai sekitar Sarmi, di muara Sungai Mamberamo, kemudian Ia memberi nama pulau itu (Papua) Nueva Guinea (Wanggai, 2008). Seorang pengelana yang juga penemu teluk Bintuni (Kabupaten Teluk Bintuni) N.Vinck,

Pada tahun 1663 telah melakukan perjalan di beberapa tempat di teluk Berau bahkan sudah melihat Islam di sana (Kamma, 1994). Sebelum bersentuhan dengan dunia luar, di Fakfak khususnya dan daerah lainnya di Papua dan Papua Barat terdapat sistem kepemimpinan tradisional yang dari segi asal usulnya keberadaannya bersamaan dengan adanya kehidupan di tanah Papua. Sistem kepemimpinan tradisional/adat tersebut meliputi sistem kepemimpinan Raja, sistem kepemimpinan Pria Berwibawa(Big Man), sistem kepemimpinan kepala suku (sistem Ondoafi) yang lebih berorientasi pada masalah religi (Kafiar, dalam Kamaluddin, 1999). Beberapa penelitian tentang kehidupan sosial masyarakat,harmonisasi, dan persaingan hidup terbentuk dari pola kepemimpinan tradisional masyarakat Fakfak, yaitu pertuanan/raja sehingga semua masyarakat masih menghormati raja dan seluruh unsur adat yang dapat menciptakan kepatuhan di dalam masyarakat (Kafiar dalam Kamaluddin, 1999).