Perkembangan Kota Cimahi Jawa barat dari Masa ke Masa
Cari Berita

banner fix 2019

banner fix 2

Perkembangan Kota Cimahi Jawa barat dari Masa ke Masa

ALDI BIMANTARA
Thursday, March 14, 2019


KamiUpdate.com-Cimahi Perkembangan wilayah Cimahi telah mengalami transformasi, dari apa yang dahulu direncanakan pada masa kolonial. Kota taman dengan konsep ekologis yang dipertahankan bergeser menjadi kota yang mengeksploitasi lahan secara masif. Jumlah penduduk yang semakin bertambah dengan wilayah yang terbatas menjadikan Kota Cimahi rawan akan isu sprawl. Fenomena tersebut umumnya ditandai dengan perkembangan permukiman skala kecil dan jumlah yang besar pada wilayah-wilayah pinggiran.

Kota Cimahi memiliki fungsi utama sebagai kota garnisun pada masa kolonialisme. Pertimbangan utama Kota Cimahi dipilih sebagi kota garnisun adalah karena wilayahnya yang cenderung tersembunyi, namun memiliki akses yang baik dari Batavia, serta adanya tiga jalur kereta api dan jalan raya pos. Penentuan fungsi bagi satu wilayah adalah sebagai dasar perencanaan di satu wilayah yang nantinya akan diikuti dengan pengembangan aktivitas bagi wilayahnya. Oleh karena itu, pihak Belanda meningkatkan pengembangan fasilitas militer di Kota Cimahi, untuk dapat menunjang fungsinya sebagai pusat militer.

Fungsi Kota Cimahi sebagai pusat militer dibarengi dengan penerapan konsep tuinstadkarakter di Kota Cimahi. Konsep tersebut adalah terjemahan yang sama dari konsep kota taman yang umum diterapkan di Eropa pada periode tersebut. Konsep tersebut juga secara rinci mengatur jarak antar bangunan, untuk menyediakan ruang terbuka. Sempadan antar bangunan dan tinggi bangunan juga dipertimbangkan. Konsep kota taman diterapkan dan berjalan beriringan untuk menunjang fungsi Kota Cimahi sebagai pusat militer.

Pasca masa kolonialisme di Indonesia, umumnya wilayah-wilayah di Indonesia sangat berfokus pada pembangunan. Kota Cimahi adalah salah satu wilayah yang mengalami perubahan tersebut. Hingga saat ini terjadi perubahan fungsi di Kota Cimahi, dari yang semula ditetapkan sebagai kota garnisun menjadi kota dengan fungsi komersial (industri, perdagangan, jasa dan permukiman). Hal itu dilihat dari penggunaan lahan di Kota Cimahi yang lebih dari 50%-nya sudah dimanfaatkan sebagai industri, perdagangan dan jasa dan permukiman. Penggunaan lahan untuk kawasan militer hanya menyisakan sekitar 2% dari total luas Kota Cimahi. Pergeresaran fungsi Kota Cimahi yang semakin fokus ke arah pengembangan kawasan komersial cenderung membawa dampak buruk, khususnya terkait dengan eksploitasi sumber daya yang ada. Hal tersebut juga secara langsung telah menghilangkan cerminan kota taman yang dahulu ditetapkan di Kota Cimahi. Jumlah penduduk yang semakin bertambah dengan wilayah yang terbatas mendorong Kota Cimahi cenderung berkembang menjadi urban sprawl1. Fenomena tersebut umumnya ditandai dengan perkembangan permukiman skala kecil dengan jumlah yang besar pada wilayah-wilayah pinggiran.

Wilayah Metropolitan Bandung Raya mengalami ekspansi lahan terbangun yang sangat pesat dan arahnya yang cenderung menunjukkan fenomena sprawl (Wijaya, 2015). Terjadinya sprawl karena tidak adanya konsep pembangunan yang baik dan cenderung membawa permasalahan turunan. Pada kota Cimahi permasalahan yang sangat tampak saat ini adalah ketersediaan sumber daya air yang telah melebihi ketersediaan sumber dayanya. Hal tersebut adalah dampak dari terjadinya pembangunan yang tidak disesuaikan dengan kaidah-kaidah perencanaan dan tidak lagi sejalan dari konsep perencanaan awal.

Terkait dengan arah perkembangan Kota Cimahi yang cenderung mengalami sprawl, penerapan konsep kota kompak adalah salah satu penanganan yang umum diterapkan. Konsep kota kompak adalah bentuk perencanaan kota yang berlawanan dari fenomena sprawl. Kota Kompak adalah bentuk perencanaan kota dengan mengoptimalkan penggunaan lahan di satu wilayah, dengan menerapkan penggunaan lahan campuran. Penggunaan lahan campuran merupakan bentuk pemanfaatan lahan dengan mengalokasikan berbagai aktivitas di dalam satu kawasan, dengan minimal adanya ketersediaan fasilitas dasar.

Penataan aktivitas dengan konsep penggunaan lahan campuran, dibarengi dengan pengawasan terhadap struktur ruang dan pola ruang kawasan yang telah ditetapkan di dalam dokumen rencana tata ruang . Agar ekspansi aktivitas dari satu wilayah tidak terjadi secara sporadis. Untuk permasalahan mengenai keterbatasan sumber daya air yang ada di Kota Cimahi, salah satu Tulisan dari Wijitkosum (2008) menjelaskan terdapat tiga poin utama yang dapat dilaksanakan untuk dapat mengimbangi pemanfaatan air bersih dalam proses pertumbuhan wilayah: (1) penggunaan air yang efekti dengan memperhatikan kepentingan penggunaannya; (2) memerbesar cadangan air dengan berupaya meningkatkan sumber-sumber penghasil (3) reformasi struktur harga untuk dapat menunjang poin sebelumnya.