Mengenal Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Nusalasi - Van Den Bosch di Fakfak Papua
Cari Berita

Iklan

Advertisement

Iklan

Mengenal Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Nusalasi - Van Den Bosch di Fakfak Papua

ALDI BIMANTARA
Monday, February 4, 2019



KamiUpdate.com-Fakfak Sobat jika kamu berkunjung ke Papua barat, jangan lupa mampir ke Kabupaten Fakfak, karena selain Raja ampat yang pesona wisatanya sudah tersohor di manca negara , Papua barat juga punya sebuah daerah menarik untuk dikunjungi. Kabupaten Fakfak merupakan salah satu kabupaten dan kota tertua di Provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukota kabupaten terletak di Kota Fakfak yang secara astronomis terletak pada 131°30'-138°40' BT dan 2°25'-4° LS. Daerah ini juga berbatasan langsung dengan Teluk Bintuni di utara, Laut Arafura di selatan, Laut Seram dan Teluk Berau di barat, serta Kabupaten Kaimana di selatan dan timur. Fakfak merupakan kota pesisir dan sebagian daerahnya masuk ke dalam Kawasan Konservasi Taman Pesisir.

Saat ini, perairan Fakfak telah menjadi bagian dari Jejaring Kawasan Konservasi Taman Pesisir Daerah berdasarkan UU No. 27/2007, junto, UU No.  1/2014 tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Sebagai bagian dari blok ekologi perairan di selatan Pulau Papua, perairan Fakfak penting bagi sektor perikanan. Melalui inisiatif masyarakat adat Fakfak dari tiga petuanan utama yakni Petuanan Atiati, Petuanan Ugar Pikpik Sekar, Petuanan Arguni, serta satu petuanan yang memiiki relasi langsung dengan kawasan Teluk Berau yakni Petuanan Wertuar di Distrik Kokas, Pemerintah Kabupaten Fakfak pun merespons insiatif ini dengan melanjutkan usulan pencadangan kepada Gubernur Papua Barat. Pada bulan Juli 2017 yang lalu, Gubernur Provinsi Papua Barat telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 523/136/7/2017 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Berau, seluas 99.000 ha, dan Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Nusalasi-Van Den Bosch, seluas 251.000 ha, di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.


Peta Zonasi Kawasan Konservasi Taman Pesisir Teluk Nusalasi-Van Den Bosch Fakfak
(Credit by Conservation International)

Sementara itu, survei yang dilakukan Conservation International bekerjasama dengan UNIPA dan LIPI tahun 2006 menemukan 924 jenis karang di Kabupaten Fakfak hingga Kaimana, di mana terdapat 14-16 jenis baru dan endemik. Dari formulir “Coral Reef Fish Diversity Index” diprediksi ada sekitar 1.194 jenis ikan karang di area Fakfak hingga Kaimana. Biomassa ikan di wilayah ini, khususnya ikan untuk keperluan makan dan komersial, adalah 234 ton/km2. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara Thailand yang hanya mencapai 174 ton/km2. 



A. Scorpaenodes bathycolus (Allen & Erdmann, 2012), B. Manonichthys jamali (Allen & Erdmann, 2007), C. Chrysiptera giti (Allen & Erdmann, 2008), D. Pomacentrus fakfakensis (Allen & Erdmann, 2009), E. Pomacentrus new species (Allen & Erdmann, 2018), F. Paracheilinus nursalim (Allen & Erdmann, 2008)

Sementara itu, telah ditemukan 492 jenis karang keras di perairan Fakfak. Dari jumlah tersebut, enam jenis karang keras adalah jenis-jenis baru yang belum dideskripsikan dan ditemukan di Teluk Nusalasi/Sebakor. Sementara itu, rata-rata karang keras dari pengamatan di berbagai kedalaman antara 4–25 m berdasarkan pengukuran metode transek memperlihatkan kondisi yang sehat. Kawasan perairan Fakfak juga memiliki keanekaragaman jenis udang mantis yang baik. Terdapat 27 jenis udang mantis, di mana 3 diantaranya merupakan jenis baru dan endemik atau hanya terdapat di wilayah perairan Fakfak (Allen & Erdmann, 2006). 

Coral reef  



Udang mantis perempuan (Harpiosquilla raphidea)

Perairan Fakfak memiliki potensi konservasi perairan yang tinggi, terutama di wilayah Teluk Nusalasi hingga Tanjung Van Den Bosch di Distrik Karas dan Teluk Berau di Distrik Arguni dan Distrik Kokas. Dari aspek keanekaragaman hayati perairan dan biomassa ikan karang, perairan Fakfak mencatat rekor dengan ditemukannya 330 spesies ikan karang di setiap situs yang disurvei. Selain itu, keanekaragaman karang keras rata-rata mencapai 230-260 per situs yang disurvei, khususnya di Teluk Nusalasi dengan tingkat keanekaragaman jenis karang keras yang tertinggi mencapai 260 jenis. 

Taman bawah laut 


Spesies Penyu (Chelonia mydas)

Pulau Ugar dan Arguni memiliki pulau karst yang unik, mirip Kepulauan Piaynemo di Raja Ampat dan Teluk Triton di Kaimana. Dari hasil pemetaan partisipatif dengan Petuanan Kokas/Ugar, Arguni dan Karas, dilaporkan bahwa berbagai jenis cetacean sering menjadikan perairan Teluk Nusalasi sebagai kawasan pakan dan bermain, di antaranya hiu totol atau whale shark, hiu karang sirip putih atau white tip reef shark, dan hiu karang sirip hitam atau black tip shark. Pada laporan lain disebutkan bahwa di beberapa lokasi sering terlihat pari manta. Sedangkan wilayah Pulau Arguni dan Ugar telah menjadi lokasi berkembang biak (nursery ground) dan lokasi rekreasi pantai. 

Pulau Arguni di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak 
(Credit by Radio HMS Fakfak) 



Kepulauan Ugar di Fakfak Papua barat 
(Credit by kaufikanril.com)


Potensi wisata bahari tergolong menjanjikan di perairan Kabupaten Fakfak, antara lain diving, trekking, tirta, karst dan pantai pasir putih di pulau-pulau di Arguni. Dari aspek perikanan, perairan Fakfak menjadi lokasi peneluran ikan terbang serta wilayah pengasuhan tuna dan berbagai jenis ikan kakap merah. Potensi ini bukanlah tanpa ancaman, karena masih terjadi penangkapan ikan secara destruktif dengan menggunakan bom dan sianida, serta penggunaan jaring rawai (longline) sehingga terjadi penangkapan yang berlebihan serta penggunaan kompresor. Selain itu, masih ada penangkapan hiu secara berlebihan untuk keperluan komersial. Menilik berbagai potensi maupun berbagai ancaman, maka diperlukan sebuah pendekatan konservasi untuk kegiatan perlindungan, rehabilitasi, pengawetan, dan pemanfaatan.