Karakteristik Rumah Adat Suku Tolaki dan Wolio di Sulawesi Tenggara
Cari Berita

Iklan

Advertisement

Iklan

Karakteristik Rumah Adat Suku Tolaki dan Wolio di Sulawesi Tenggara

ALDI BIMANTARA
Tuesday, February 5, 2019



KamiUpdate.com Penduduk Sulawesi Tenggara terdiri dari berbagai suku bangsa yang mempertahankan kebudayaan daerah asalnya, antara lain suku Tolaki, salah satu suku terbesar yang ada di provinsi Sulawesi Tenggara di kota Kendari sedangkan suku Wolio adalah salah satu suku terbesar di Kota Bau-bau di samping suku Muna dan suku pendatang lainnya. 

Suku Tolaki dan suku Wolio adalah salah satu suku dan memiliki kerajaan yang terbesar di Sulawesi Tenggara, dan mendiami daerah yang berada di sekitar Kolaka dan Bau Bau serta 5 daerah lainya, termasuk serta Buton. suku Tolaki berasal dari kerajaan Konawe, sedangkan suku Wolio berasal dari Kerajaan Buton yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Buton. Beberapa wilayah bekas Kesultanan Buton berdiri di beberapa kabupaten dan kota, yaitu: Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Buton Utara dan Kota Bau-Bau (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 14). Suku Tolaki adalah suku pendatang yang datang ke Kendari. Rombongan pertama suku Tolaki berasal dari Utara (sekitar Danau Matana dan Mahalona) melalui dua jalur, yaitu melalui daerah Mori, Bungku selanjutnya memasuki bagian Timur Laut daratan Sulawesi Tenggara dan melalui danau Towuti kearah Selatan dan bermukim beberapa lama di daerah Rahambuu, dari sana terbagi dua rombongan, yang mengikuti lereng gunung Watukila lalu membelok ke arah barat daya sampailah di tempat-tempat yang mereka namakan Lambo, Lalolae, Silea yang kelak menjadi masyarakat Mekongga (Kolaka). Sedangkan yang turun mengikuti kali besar (dalam bahasa Tolaki disebut Konawe Eha) disebut masyarakat Konawe.



Suku Tolaki dan suku Wolio merupakan dua suku yang sangat menonjol di pulau Sulawesi Tenggara yang menerapkan sistem nilai budaya ketika membangun suatu rumah untuk ditinggali ataupun rumah untuk berkumpul, yang disebut dengan pembagian secara kosmologi alam dan pembagian yang mengacu pada anlogi tubuh. Bentukan dan fungsi interior yang ada di rumah adat suku Tolaki dan rumah adat suku Wolio merupakan hal yang patut dipertahankan agar budaya leluhur tidak hilang. Rumah adat pada jaman sekarang sudah banyak yang tidak dirawat, sehingga makna dari bentuk dan fungsi interior dari suku Tolaki dan suku Wolio tidak lagi sepenuhnya mengandung makna adat yang di tanamkan leluhur karena perubahan jaman sehingga ketika direkrontuksi sudah tidak seperti aturan adat yang berlaku. Dasar-dasar dari bentukan desain rumah adat serta makna dari bentukan dan juga fungsinya merupakan hal-hal yang patut diketahui dari kedua suku tersebut yakni suku Tolaki dan suku Wolio melalui metode penelitian kualitatif. Bentukan susunan pembangunan rumah adat dari kedua suku tersebut sangat terlihat jelas dalam pembagiannya dan pemaknaanya, sehingga saat membangun rumah tampak jelas bahwa adanya analogi tubuh yang terkandung dalam rumah tersebut baik dari penataan maupun strukturnya. 

Rumah adat Suku Tolaki 

Setiap rumah adat memiliki bentukan interior yang berbeda-beda karena mesti di tinjau melalui fungsi dan maknanya juga. Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan fungsi masing-masing dan makna dari bentuk dan fungsi interior, maka kita harus mengetahui elemen-elemen dari Interior tersebut memiliki bentukan apa saja apa fungsinya dan apa makna yang terkandung dari bentukan tersebut.  

Secara Antropologis, bentuk rumah manusia dikelompokan kedalam tiga jenis, yaitu rumah yang setengah dibawah tanah (semi-subterranian dwelling), rumah diatas tanah (surface dwelling), rumah diatas tiang (pile dwelling). Dari sudut penggunaanya, tempat berlindung di bagi dalam tiga golongan, yaitu : tadah angina, tenda atau gubuk yang bisa dilepas dan rumah untuk menetap memiliki beberapa fungsi sosial; keluarga inti,keluarga besar,rumah suci, pemujaan, berkumpul umum serta pertahanan. Secara Universal rumah tinggal dikalangan suku bangsa Tolaki disebut Laika (Konawe) dan Raha (Mekongga). Bangunan ini berukuran luas,besar, dan berbentuk segi empat terbuat dari kayu dengan diberi atap dan berdiri diatas tiang-tiang besar yang tingginya sekitar 20 kaki dari atas tanah. Bangunan ini terletak disebuah tempat yang terbuka di dalam hutan dengan dikelilingi oleh rumput alang-alang. Pada saat itu bangunan tingginya sekitar 60-70 kaki. Dipergunakan Sebagai tempat bagi raja untuk menyelenggarakan acara-acara yang bersifat seremonial atau upacara adat (Melamba 50). 

Rumah adat Suku Wolio 

Banua tada adalah sebuatan rumah adat Suku Wolio. Banua Tada merupakan rumah tempat tinggal suku wolio atau orang Buton di pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Kata banua dalam bahasa setempat berarti rumah sedangkan kata tada berarti siku. Jadi banua tada dapat diartikan sebagai rumah siku. Berdasarkan status sosial penghuninya, struktur bangunan rumah ini dibedakan menjadi 3 yaitu kamali, banua tada tare pata pale, dan banua tada tare talu pale. Kamali atau yang lebih dikenal dengan nama malige berarti mahligai atau istana, yaitu tempat tinggal raja atau sultan dan keluarganya. Banua tada tare pata pale yang berarti rumah siku bertiang empat adalah rumah tempat tinggal para pejabat atau pegawai istana. Sementara itu, banua tada tare talu pale yang berarti rumah bertiang tiga adalah rumah tempat tinggal orang biasa. Bila diamati dengan lebih seksama, rumah adat ini seakan-akan terdiri dari bagian kepala, badan, dan kaki yang sarat dengan falsafah orang Buton. Masyarakat Buton memiliki tradisi memberi lubang rahasia pada kayu terbaiknya untuk diberi emas dan menandakan lubang rahasia tersebut sebagai pusar yang merupakan titik central tubuh manusia. Emas tersebut sebagai perlambang bahwa sebuah rumah memiliki hati dan bagi adat Buton, hati adalah laksana intan pada manusia. Di atas atap, terdapat ukiran nanas dan naga yang merupakan lambang kerajaan dan kesultanan Buton. 

Atap terbuat dari rumbia dan hipa-hipa. Cara menyusunnya harus secara islami yang melambangkan sholat yakni kanan yang menutup, seperti bersedekah. 

Untuk rumah bertingkat lantai 1(satu) menjadi ruang utama , lantai 2(dua) menjadi ruang peraduan atau untuk bertemu keluarga serta termasuk kamar anak-anak. dan lantai 3(tiga) menjadi kamar tidur untuk sang putri dan juga untuk kegiatan sehari-hari putri-putri raja seperti memenenun dan menganyam. Pintu yang berada ditengah hanya boleh digunakan oleh Sultan. Serta diruangan kedua atau ruang tengah memliki jendela yang sangat besar berupa jendela geser yang hanya boleh dibuka ketika melakukan pingitan atau lamaran, dan jendela itu hanya digunakan oleh calon suami yang dilihat dari tingkatan atau kedudukannya dimasyarakat serta statusnya di dalam hubungan pelamaran.

Rumah tradisional suku Wolio seperti Istana Malige pembagian tata ruangan tersebut mengandung unsur pemaknaan sebagai berikut:Disebut Sasambiri disimbolkan sebagai penggambaran pribadi Sultan yang selalu terbuka kepada rakyatnya. Hal ini terlihat pada penempatan pintu utama dan pintu belakang yang fungsi umumnya untuk keluar-masuknya orang kedalam istana.

Karakteristik Rumah Adat Suku Wolio 

Disebut Bamba dan Tanga disimbolkan sebagai rongga perut, berfungsi sebagai tempat berkumpulnya tamu dan menampung segala persoalan yang ditujukan kepada Sultan maupun keluarganya. Bamba biasanya digunakan untuk tamu yang bukan kerabat dekat Sultan sedangkan tanga digunakan untuk kerabat dekat Sultan. Disebut Suo disimbolkan sebagai rongga dada dan kepala. Hal ini dihubungkan dengan penempatan kamar utama yang berfungsi sebagai tempat peraduan Sultan. Selain itu Suo berhubungan dengan tradisi masyarakat setempat yang disebut po’suo. Tradisi ini berbentuk acara ritual yang ditujukan kepada gadis-gadis untuk dipingit karena dianggap sudah dewasa (aqil baligh) dan pantas untuk berkeluarga.

Penghuni istana disimbolkan sebagai nyawa atau roh pada manusia. Hubungan antara tubuh atau jasad dengan roh manusia mengandung pemahaman saling menjaga dan saling merawat dan memelihara.Pembagian ruangan yang telah disebutkan dibatasi oleh tetengkala (papan pisah). Hasil wawancara dengan tokoh masyarakat Buton (Alm. La Ode Saidi-adalah Anak kandung Sultan Buton 37, pewaris Istana Malige), bahwa Tetengkala berfungsi sebagai pembatas dan tanda kejelasan fungsi ruangan dalam istana Malige. Fungsi pemisahan dimaksud dimisalkan tentang tamu laki-laki ditempatkan diruangan bamba sedangkan tamu wanita diruangan tanga.

Kamali/Istana Malige dalam penataan struktur bangunannya, didasari oleh konsep kosmologis sebagai wujud keseimbangan alam dan manusia. Di sisi lain keberadaannya merupakan media penyampaian untuk memahami kehidupan masyarakat pada zamannya (kesultanan) dan sebagai alat komunikasi dalam memahami bentuk struktur masyarakat, status sosial, ideologi dan gambaran struktur pemerintahan yang dapat dipelajari melalui pemaknaan lambang-lambang, simbol maupun ragam hiasnya secara detail.