Debat PILPRES II : Kedua Capres Indonesia Berkomitmen Untuk Swasembada Energi
Cari Berita

Iklan

Advertisement

Iklan

Debat PILPRES II : Kedua Capres Indonesia Berkomitmen Untuk Swasembada Energi

ALDI BIMANTARA
Monday, February 18, 2019

KamiUpdate.com-Jakarta Dua kandidat presiden Indonesia berjanji pada hari Minggu untuk mencapai swasembada energi dengan meningkatkan penggunaan bioenergi, terutama didorong oleh minyak sawit, untuk memotong impor minyak yang mahal oleh ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Indonesia, produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, telah mendorong agar semua bahan bakar diesel yang digunakan di negara ini mengandung biodiesel untuk meningkatkan konsumsi kelapa sawit, memangkas impor bahan bakar, dan mempersempit kesenjangan neraca transaksi berjalan.
Dalam debat pemilu yang disiarkan televisi, Presiden Joko Widodo mengatakan jika ia memenangkan masa jabatan kedua pemerintah berencana untuk mengimplementasikan program B100, mengacu pada bahan bakar yang seluruhnya terbuat dari minyak sawit, setelah tahun lalu mewajibkan untuk menggunakan biodiesel yang mengandung 20 persen bio-konten ( B20). 
"Kami berharap 30 persen dari total produksi kelapa sawit akan digunakan untuk biofuel. Rencananya jelas, jadi kami tidak akan bergantung pada minyak impor," kata Widodo, seraya menambahkan bahwa produksi minyak sawit mentah Indonesia telah mencapai 46 juta ton per tahun.
Menyetujui pentingnya bioenergi untuk swasembada, lawannya Prabowo Subianto mengatakan jika terpilih dia juga akan "meningkatkan penggunaan minyak kelapa sawit, gula aren, singkong dan etanol dari gula (tebu)".
Penantang tidak merinci rencana bioenergi, tetapi tim kampanyenya telah mengusulkan penggunaan jutaan hektar lahan kritis untuk mengolah gula aren untuk menghasilkan energi.
Pemerintah Widodo sebelumnya mengatakan akan menawarkan insentif bagi pengembang B100, yang pengimpor minyak bersih berharap dapat menggantikan impor bahan bakar dalam waktu tiga tahun.
Perusahaan energi negara Indonesia PT Pertamina telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan minyak Italia Eni untuk mengembangkan kilang di Indonesia yang akan menghasilkan bahan bakar yang sepenuhnya berasal dari minyak sawit mentah (CPO).
Impor minyak telah berkontribusi terhadap defisit neraca berjalan Indonesia yang semakin lebar dan volatilitas mata uang rupiah. Pemerintah mengklaim bahwa program biodieselnya akan menghemat miliaran dolar dalam impor bahan bakar diesel. 
Meskipun pensiunan jenderal Prabowo setuju dengan Widodo tentang beberapa hal selama debat, ia mengatakan "tanah dan air Indonesia, dan sumber daya di dalam" harus dikontrol oleh pemerintah.
"Kami berpandangan bahwa pemerintah harus hadir secara rinci, menyeluruh, tegas dan aktif untuk memperbaiki ketidaksetaraan dalam kekayaan," katanya.
Penantang itu mengatakan proporsi kepemilikan petani kecil di perkebunan sawit negara itu juga harus lebih besar. Petani kecil saat ini menyumbang sekitar 40 persen dari 12 juta hektar perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Kedua kandidat menyatakan dukungan untuk kontrol yang lebih besar terhadap sumber daya alam Indonesia.
Presiden Widodo menyoroti pengambilalihan Pertamina atas pengelolaan blok-blok minyak dan gas utama dari operator asing, dan sebuah perjanjian untuk sebuah perusahaan negara untuk membeli 51 persen saham di tambang tembaga Grasberg raksasa dari Freeport McMoRan.




.