Indonesia Akan Membangun Tempat Penangkapan Ikan di Perairan Lepas Pulau Natuna
Cari Berita

Iklan

Advertisement

Iklan

Indonesia Akan Membangun Tempat Penangkapan Ikan di Perairan Lepas Pulau Natuna

ALDI BIMANTARA
Thursday, February 21, 2019


KamiUpdate.com-Jakarta Indonesia berencana untuk membangun daerah penangkapan ikan di perairan utara pulau Natuna, dalam upaya untuk menegaskan kedaulatannya atas suatu wilayah yang katanya dikenai perambahan oleh kapal penangkap ikan Tiongkok dan Vietnam.
Menteri Koordinator Urusan Maritim Luhut Pandjaitan mengatakan pada hari Rabu (20 Februari) bahwa pemerintah akan membangun pelabuhan laut penangkap ikan dan fasilitas penyimpanan dingin di salah satu pulau Natuna pada kuartal ketiga tahun 2019.
Mereka juga bermaksud untuk mengerahkan sebuah kapal tanker bahan bakar di sana untuk memastikan para nelayan Indonesia memiliki pasokan energi yang terjamin untuk menyalakan mesin kapal mereka. 
"Kami akan membuka peluang bagi nelayan kami untuk pergi ke sana. Kami marah ketika orang lain pergi dan memancing di sana, sementara tidak ada nelayan kami di sana," kata Pak Luhut dalam sebuah taklimat media.
Atmadji Sumarkidjo, ajudan Luhut, kemudian mengatakan kepada The Straits Times bahwa investor asing dipersilakan untuk membangun fasilitas apa pun di pulau Natuna untuk melayani industri perikanan, tetapi hanya dalam pemrosesan ikan.
Mereka tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan memancing itu sendiri. 
Meskipun terletak di zona ekonomi eksklusif Indonesia (ZEE), laut di utara pulau Natuna sebelumnya tidak dinamai dan dianggap sebagai bagian dari Laut Cina Selatan, yang berbatasan dengannya.
Indonesia menyatakan bahwa pihaknya bukan pihak dalam sengketa Laut Cina Selatan, meskipun ada insiden diplomatik yang melibatkan perairan di sekitar Natuna.
Dua tahun lalu, seorang pejabat senior pemerintah Indonesia membuka gulungan peta yang menggambarkan perluasan wilayah maritim negara itu, dengan bagian Laut Cina Selatan di utara pulau-pulau yang disebut sebagai Laut Natuna Utara.
Namun, ini tidak pernah dibuat resmi. Presiden Joko Widodo melakukan perjalanan ke perairan lepas kepulauan Natuna dengan kapal perang angkatan laut pada Juni 2016.
Perjalanan yang jarang, Mr Luhut mengatakan kepada ST pada waktu itu, menunjukkan bahwa sementara Indonesia tidak mengharapkan konflik dengan negara lain, ia tetap kokoh di posisinya.
"Kami tetap bersahabat tetapi wilayah dan kedaulatan Indonesia tetap Indonesia. Ini tidak bisa dinegosiasikan," katanya, mencatat pelanggaran oleh kapal penangkap ikan Tiongkok di Natuna.
Perjalanan Jokowi mengikuti sebuah insiden di mana kapal perang Indonesia menahan kapal berbendera Tiongkok dan awaknya karena memancing secara ilegal di perairan kepulauan Natuna.
Setahun kemudian, sebuah kapal penjaga pantai Vietnam mencegat sebuah kapal patroli keamanan laut Indonesia yang mengawal lima kapal nelayan Vietnam yang telah ditangkap perburuan sebelumnya.
Bentrokan itu mengakibatkan pihak berwenang Indonesia kehilangan tahanan atas kelima kapal nelayan berbendera Vietnam.
Kedua pihak sejak itu menyelesaikan insiden itu melalui saluran diplomatik dan mengatakan mereka berharap dapat mencegah insiden di Laut Cina Selatan di masa depan.