Sejarah Pembangunan Bendungan Bili-Bili Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Cari Berita

Iklan

Advertisement

Iklan

Sejarah Pembangunan Bendungan Bili-Bili Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan

Friday, January 25, 2019



Kamiupdate.com – Berawal pada tahun 1974, Sungai Jeneberang meluap dan menggenangi Kota Makassar dan Kabupaten Gowa hingga ¾ Kota Makassar tenggelam akibat luapan Sungai Jeneberang.
Dan pada tahun 1980 mulailah dilakukan studi secara intensif kemungkinan untuk membangun sebuah bendungan untuk mengatasi banjir yang pada waktu itu setiap tahun terjadi.

Tahun 1990 detail desain pembangunan bendungan tersebut telah siap, hingga mulailah dilakukan pembebasan lahan untuk kepentingan pembangunan yang luasnya kurang lebih 40,428 ha.

Tahun 1992, pekerjaan konstruksi dimulai. Tujuan utama pembangunan bendungan ini adalah untuk mengendalikan banjir di Kota Makassar dan Gowa, dengan fungsi lain seperti air baku kota, listrik, irigasi, perikanan dan pariwisata.




Bendungan ini memilki daya tampung sebesar 375 juta m3, kapasitas untuk air perkotaan 35 juta m3, dan kapasitas untuk listrik 20 Mega Watt.

Bendungan ini di desain dengan panjang bendungan utama 750 m dengan tinggi 73 m, bendungan sayap kanan 412 m dengan tinggi 52 m, bendungan sayap kiri 646 m dengan tinggi 42 m.

Debit rencana pelimpah 2.200 m3, dan debit rencana untuk intake 45 m3. Elevasi puncak 106 m, elevasi muka air normal 99,5 m, elevasi mercu pelimpah 91,5 m dan elevasi dasar waduk 48 m.

Walaupun bendungan ini dibangun dengan tujuan untuk pengendalian banjir, namum masyarakat masih merasa cemas apalagi saat musim hujan tiba. Semestinya dengan adanya bendungan ini, masyarakat bisa lebih tenang dan tak perlu waspada saat musim hujan tiba. Kejadian di Situ Gintung mungkin menjadi salah satu contoh hal yang menakutkan bagi sebagian masyarakat.

Secara struktur  Bendungan Bili-Bili sangat berbeda dengan Situ Gintung.  Walaupun mengenai keruntuhan dam (dam break) bukan tidak pernah terjadi, hingga semua bendungan khususnya yang ada di Indonesia tak terkecuali dam bili-bili mempunyai study dam break.

Secara umum, keruntuhan bendungan sebabkan oleh 3 faktor yaitu pertama collapse by Earthquake (gempa bumi), kedua seepage/leakage (kebocoran atau retakan) dan ketiga overtopping.

Bendungan ini didesain dengan type Rockfill dam dengan inti di tengah (center core Rockfill dam), dam bili-bili didesain dengan menggunakan design seismic coefficient di Jepang 0,12 (medium earthquake region) yang dikenal sangat rawan gempa, meski Sulawesi Selatan umumnya relatif aman dari gempa. Bendungan ini didesain dengan inflow discharge 3,100 m3/detik. Pada elevasi 103 design flood water level.

Dengan menggunakan Sistem Digital bendungan ini dioperasikan selama 24 jam secara ketat terutama di musim hujan dengan memperhatikan inflow (air yang masuk) dengan ketinggian muka air di reservoir dengan bukaan pintu pada saat air harus dikeluarkan melalui pintu.

Pada kondisi normal dimana apabila muka air waduk mencapai angka 99,50 secara otomaris air melimpah melalui spillway.

Berdasarkan penjelasan singkat diatas, sebenarnya tidak ada yang perlu di takutkan oleh masyarakat, meskipun kewaspadaan harus tetap utama pada musim hujan. Akan tetapi tidak perlu meresahkan karena bendungan ini didesain cukup aman dan dioperasikan dengan Standard Operasional Prosedure yang sangat ketat.


sumber :
Dr.Ir. Haeruddin C. Maddi.

Pemerhati Sumberdaya Air.