Mengenal Tarian Tumor, Tarian Asli Khas Kota Fakfak di Papua Barat
Cari Berita

Iklan

Advertisement

Iklan

Mengenal Tarian Tumor, Tarian Asli Khas Kota Fakfak di Papua Barat

ALDI BIMANTARA
Friday, January 4, 2019






Tarian Tumor adalah sebuah tarian khas dari Kabupaten Fakfak Provinsi Papua barat. Tumor ditarikan wanita dan lelaki dimana para penari wanita memegang bulu cenderawasih di kedua tangannya. Mereka memperagakan tarian bak gerak kepakan burung cenderawasih yang gemulai. Sementara para pria mendendangkan lagu khas distrik dengan bahasa yang berbeda pula.

Selain tarian Tumor, ada pula tarian yang berasal dari Distrik Karas, distrik terluas dengan jumlah perkampungan yang relatif lebih sedikit. Masyarakat di Distrik Karas biasanya mempersembahkan tari Mirik Nan Yawa. Kalau distrik lain lebih menampilkan para mama (sebutan untuk wanita dewasa), Distrik Karas menonjolkan anak muda yang Atraksi Perahu Belang seni hiburan budaya yang energik dengan balutan pakaian adat yang minim. Adapun penarinya adalah para lelaki.

Yawa mengisahkan tentang kesedihan mendalam sepasang saudara kandung yang terpisah dan bertemu dalam sebuah pertempuran sebagai musuh. Keduanya tak menyadari bahwa mereka bersaudara sampai akhirnya salah satu di antara mereka tewas akibat luka tombak. Setelah dikenali dari tanda lahir, nyatanya mereka bersaudara. Derai tangis pun mengalir kencang. Pertemuan sepasang saudara kandung harus berujung tragis. Korban digotong dengan iringan lagu kesedihan.

Puas menikmati suguhan tarian, jika anda berkunjung ke Fakfak di Papua barat, tentu anda juga akan dibuat terpana dengan atraksi perahu belang. Perahu belang adalah perahu adat yang dikhususkan bagi para raja. Uniknya perahu ini tidak hanya beratraksi di laut lepas melainkan juga di darat. Para raja biasanya menaiki perahu belang dan mengitari kampung untuk melihat-lihat, lalu turun dan menyapa rakyatnya. Perahu belang menjadi salah satu kebudayaan yang ada sejak zaman Kesultanan Tidore (abad ke-16 hingga 18).

Jika berkunjung ke Fakfak dan kebetulan ada festival, jangan lewatkan untuk mampir ke museum unik di Distrik Kokas, distrik dengan perkampungan paling banyak di Kabupaten Fakfak, yang merupakan saksi sejarah.

Jarak tempuhnya sekitar 90 menit dari Kota Fakfak jika melalui jalur darat. Melewati kelokan perbukitan yang terjal dan meliuk-liuk, akses menuju Kokas sudah sangat baik. Jalannya beraspal serta dilengkapi rambu-rambu jalan. Ada rambu-rambu tikungan, tanjakan, dan turunan. Oleh karena itu meski sedikit terjal dan berkelok, tak perlu khawatir untuk kenyamanan berkendara selama perjalanan. Sesampainya di Kokas, terpampang tulisan yang berada di atas bukit, “Selamat Datang di Kota Basis Pertahanan Perang Dunia II .” Aura Kokas sebagai kota museum pun semakin terasa setelah membaca tulisan tersebut. Sangat menarik!

Ada gua yang bisa dilewati dari sisi yang berseberangan, yaitu gua peninggalan tentara Jepang pada waktu Perang Dunia II . Lalu situs purbakala yang disebut Tapurarang, torehan lukisan atau manuskrip tapak tangan hingga Masjid Tua Patimburak.

Kota Fakfak terkenal dengan semboyan Satu Tungku Tiga Batu. Artinya Fakfak mengenal tiga agama, yaitu Islam, Kristen, serta Katolik. Semboyan itulah yang membuat masyarakat Fakfak sangat ramah dan menjaga kerukunan antar umat beragama. Selain Masjid Patimburak juga ada tempat ziarah Bunda Maria yang menjadi simbol terciptanya kerukunan di Kota Fakfak.

Kabupaten Fakfak terletak di kepala burung Pulau Papua bagian selatan. Ada pulau Panjang yang membelah wilayah Fakfak. Di sana terdapat tujuh deretan pantai pasir putih yang sangat memukau. Ada pula gugusan pulau kecil yang menyerupai jamur. Menakjubkan dan sayang untuk dilewatkan.  

Sumber :  Majalah detik edisi 26 november - 2 desember 2012