Mengenal Lebih Dekat Suku Mbaham Matta di Kabupaten Fakfak
Cari Berita

Iklan

Advertisement

Iklan

Mengenal Lebih Dekat Suku Mbaham Matta di Kabupaten Fakfak

ALDI BIMANTARA
Tuesday, January 1, 2019


Kabupaten Fakfak adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Papua barat, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Fakfak. Kabupaten Fakfak terletak pada 131˚ 30’ - 138˚ 40’ BT dan 2˚ 25’ - 4˚ LS dan berbatasan dengan Teluk Bintuni di utara; Laut Arafura di Selatan; Laut Seram dan Teluk Berau di barat; serta Kabupaten Kaimana di selatan dan timur. Kabupaten ini terkenal dengan hasil buah palanya sehingga dijuluki sebagai “kota pala”. Ibu kotanya di Kota Fakfak merupakan salah satu kota tertua di Papua. Kabupaten Fakfak di Provinsi Papua barat terletak di kepala burung bagian selatan dan letaknya sangat strategis karena mempunyai hubungan dengan Kota Ambon di Provinsi Maluku yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan kota-kota lain di Pulau Papua. Kabupaten Fakfak terdiri dari 9 distrik yang dibagi lagi kedalam 7 kelurahan dan 118 kampung. Distrik Karas merupakan distrik terluas, sedangkan Distrik Fakfak tengah merupakan distrik terkecil. Adapun Distrik Kokas merupakan distrik dengan kelurahan atau kampung terbanyak, sedangkan Distrik Karas adalah distrik dengan kelurahan atau kampung tersedikit. Kelurahan hanya terdapat di 3 distrik, yaitu Distrik Fakfak, Fakfak tengah, dan Kokas. Di Kabupaten Fakfak terdapat Suku Mbaham matta yang merupakan suku asli dari daerah ini.

Di Kabupaten Fakfak terdapat 2 klen besar yaitu klen besar Mbaham dan klen kecil Matta, selanjutnya yang disebut dengan klen ialah kumpulan keluarga-keluarga dekat di suatu wilayah tertentu. Suku besar Mbaham Matta terbagi dalam 12 sub marga yang mendiami dataran pesisir selatan Pulau Papua.



Dikenal dengan sebutan manusia batu atau negeri penghasil buah pala. Suku Mbaham Matta saat ini tersebar di 9 kecamatan, 5 kelurahan, dan 120 kampung di Kabupaten Fakfak, Papua barat. Suku Mbaham matta sudah ada sebelum negara atau siapapun pihak luar hadir di Kabupaten Fakfak, bahkan di laut, darat dan juga sungai ialah merupakan tempat hidup orang Mbaham Matta menggantungkan hidup selama berabad-abad hingga sekarang. Kaya akan sumber daya alam di laut dan di darat, menjadikan negeri Mbaham Matta kaya akan spirit leluhur moyang yang terus dijaga sampai saat ini. Kehidupan sosial mereka yang begitu unik dapat dilihat dari kerukunan beragama di wilayah adat Mbaham Matta yang begitu demokratis, tidak ada prasangka buruk dari penganut agama modern yang satu terhadap yang lainnya. Suku Mbaham Matta disatukan dalam leluhur mereka (agama adat) yang sampai sekarang dipegang sebagai pegangan hidup sembari agamawi (Kristen-Islam) yang juga mereka anuti.

Adapun dusun sagu, dusun pala, kekayaan kekayaan laut berupa rumput laut dan aneka ikan, tumbuhan mangrove dan pepohonan lainnya, semuanya menjadi sumber penghidupan bagi seluruh mahluk hidup di Kabupaten Fakfak. Tatkala negeri ini punya ribuan situs leluhur yang merupakan spirit utama Suku Mbaham Matta di Kabupaten Fakfak dalam memahami alam dan dinamika sosial dalam interaksi sehari-hari.

Berbicara mengenai suku asli Kabupaten Fakfak yaitu Suku Mbaham Matta, dari segi kehidupan sosial, kepercayaan leluhur, peninggalan-peninggalan sejarah, kelembagaan adat, perumahan tradisional hingga infrastruktur tradisional serta pengaruh era modern terhadap kehidupan sosial budaya mereka menjadi sangat penting untuk dikaji dalam sebuah tulisan ilmiah yang mengedepankan sisi budaya sebagai bentuk kecintaan terhadap kearifan lokal asli Papua, guna mewujudkan asas pembangunan berkelanjutan yang berbasis budaya di Kabupaten Fakfak Provinsi Papua barat. Hal besar inilah yang membuat penulis merasa perlu untuk membuat sebuah tulisan mengenai kehidupan suku asli Kabupaten Fakfak di Provinsi Papua barat, selain itu penulis juga merasa memiliki beban moril dari dalam diri penulis secara pribadi, walaupun bukan putra asli Kabupaten Fakfak tetapi penulis lahir dan dibesarkan di Kabupaten Fakfak dimana sudah seharusnya memiliki tanggung jawab yang sama untuk kemajuan di Kabupaten Fakfak. Adapun dengan adanya tulisan ini penulis dapat menyampaikan gagasan atau konsep yang penulis miliki untuk kemajuan suku asli Kabupaten Fakfak dalam berkehidupan sosial di era modern dan menyampaikan suatu pesan khusus kepada generasi muda Kabupaten Fakfak bahwa kita dilahirkan bersama budaya, tumbuh bersama budaya, maka untuk maju kedepan dan berkembang harus bersama budaya pula.

Berdasarkan pengalaman penulis selama hidup dan tinggal di Fakfak, kota tua yang berada di bagian selatan Pulau Papua tersebut belum pernah terjadi kekacauan yang berarti, segala sesuatunya berjalan dengan kondusif, masyarakat yang ramah dan sangat santun. Hal ini tentu berkaitan erat dengan konsep luluhur orang asli Fakfak sendiri yang menanamkan rasa cinta dan menjunjung tinggi perdamaian melalui filosofi hidup “Satu tungku tiga batu”. Adapun dalam subab diskusi ini, penulis ingin memberikan pemahaman, umpan balik atau tanggapan mengenai beberapa hal terkait adat dan budaya serta kearifan lokal Suku Mbaham Matta. 


1. Pakaian Adat Suku Mbaham Matta




Pakaian adat adalah pakaian yang memiliki ciri khas tertentu yang dijadikan identitas dari sebuah daerah atau kelompok suku. Ciri tersebut dapat berupa warna, motif, dan bahan. Di Indonesia hampir setiap wilayah tertentu memiliki pakaian adat yang menjadi identitas masyarakatnya tidak terkecuali di Kabupaten Fakfak Papua barat.

Suku asli Kabupaten Fakfak yaitu Suku Mbaham mata memiliki pakaian adat yang terbuat dari kulit kayu dengan lukisan yang melambangkan sumber daya alam asli daerah Kabupaten Fakfak yaitu buah pala. Untuk laki-laki dilengkapi mahkota atau kare-kare yang terbuat dari kulit kayu yang dihiasi bulu burung. Pada pakaian adat laki-laki atau yang biasa dikenal dengan sebuatan “Nen” biasanya dilengkapi dengan selempang berwarna merah dan tas noken kecil. Sama hal nya dengan perempuan yang menggunakan pakaian dari kulit kayu, hanya saja menggunakan dalaman dari kain berwarna putih.

Dalam menulis pakaian adat Suku Mbaham mata ini, penulis sangat kekurangan data maupun sumber informasi terkait baju adat asli suku Mbaham mata karena seiring perkembangan zaman, model pakaian adat asli Suku Mbaham mata di Kabupaten Fakfak mengalamai perubahan dari kulit kayu menjadi kain. Hal ini dapat terlihat saat perkawinan adat, sudah sangat langka untuk ditemukan masyarakat asli Fakfak yang menggunakan baju adat asli mereka dalam melangsungkan pernikahan. Berikut ditampilkan foto transformasi pakaian adat Suku Mbaham mata dari masa ke masa yang mengalami perubahan

2. Konsep Rumah adat

Konsep rumah adat Suku Mbaham matta adalah bentuk rumah panggung dan memiliki teras. Selama ini penulis tidak pernah mengetahui terkait rumah adat Suku Mbaham matta karena realita di Kabupaten Fakfak sendiri sudah sulit ditemukan. Perlu adanya kajian ulang terkait konsep rumah adat Suku Mbaham matta di Kabupaten Fakfak agar lebih dikenal secara luas.

3.  Adat dan Budaya



Adat dan budaya Suku mbaham matta bisa dilihat dari kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya yang sudah dilakukan secara turun temurun yaitu Mehak atau minum kopi bersama yang memiliki fungsi salah satunya dalam perkawinan, terdapat juga kebiasaan Mahe tuni atau isap rokok negeri yang bahan dasarnya dari tembakau lokal yang dibuat sendiri. Selain dua kebiasaan tersebut, masyarakat suku asli Mbaham matta juga memiliki ritual pernikahan adat yaitu Tombor magh atau kumpul harta, dimana dalam ritual ini keluarga laki-laki dan perempuan serta tetangga sekitar akan berkumpul untuk menyumbangkan uang secara suka rela dan kemampuan masing-masing guna memenuhi kebutukan atau kelengkapan suatu pesta pernikahan Suku Mbaham matta. Terdapat juga ritual adat penyambutan tamu oleh Suku Mbaham matta yang dibedakan untuk  laki-laki dan perempuan dalam hal atribut adat yang diberikan, dimana jika perempuan diberikan kabari yaitu suatu noken kecil dan jika tamu yang baru datang tersebut adalah laki-laki biasanya akan diberikan Tomang, sebuah tas lokal asli suku Mbaham matta yang dibuat dari daun tikar atau nipah.

4. Filosofi adat


                                                                   Credit : Warpopor

Suku Mbaham mata di Kabupaten Fakfak memiliki banyak fiosofi adat yang menjadi pegangan hidup orang Fakfak diantaranya falsafah “Satu tungku tiga batu” yang merupakan hasil akulturasi antara adat dan agama dalam masyarakat Fakfak yang melahirkan nilai-nilai toleransi, kerukunan, dan kesediaan untuk menerima perbedaan. Selain falsafah “Satu tungku tiga batu”, Suku Mbaham matta memiliki 3 asas atau landasan hidup yang merupakan turunan dari falsafah “satu tungku tiga batu” diantaranya filosofi Idu-idu, Mani nina, & Joujou yang masing-masing memunyai arti cinta kasih, perdamaian, dan kerukunan. Apabila ada permasalahan yang dinilai rumit maka untuk menyelesaikannya dengan menggelar sebuah acara adat yang bernama tradisi dudu tikar yaitu upaya untuk menjaga nilai-nilai tersebut agar masyarakat Fakfak dapat terus hidup dengan penuh cinta, rukun, dan damai dengan sesama saudaranya. Dalam perjalanananya filosofi adat tersebut sudah dapat diuji pengaruh dan manfaatnya terhadap kehidupan yang pluralistik atau beragam di Kabupaten Fakfak. Tentu sebagai generasi muda dan penerus tongkat estafet kehidupan dan perjuangan Suku Mbaham matta, siapapun yang tinggal dan hidup di Kabupaten Fakfak tanpa memandang suku, agama, ras, budaya bahkan golongan, semua mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menjaga, melindungi dan mempraktekan falsafah leluhur tersebut di semua lini kehidupan di Kabupaten Fakfak agar selalu tercipta suasana yang aman, rukun dan damai.

5. Kearifan Lokal 




Berdasarkan pemahaman penulis kearifan lokal merupakan suatu pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat lokal di suatu tempat dalam menjalankan kehidupannya yang memiliki tujuan keberlanjutan. Dalam hal ini, Suku Mbaham matta memiliki 2 kearifan lokal berupa teknik pemanenan pala di Kampung Adora-Us dan tradisi kerakera di Taman pesisir Teluk Nusalasi - Van den bosch yang membentang di Distik Kokas dan juga Karas. Kedua kearifan lokal masyarakat asli Mbaham matta ini merupakan suatu bentuk pengetahuan lokal dari masyarakat adat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam, dimana dengan teknik pemanenan pala secara adat yang dikelompokkan berdasarkan marga serta tradisi kerakera yang semacam sasi, namun lebih bersifat komunal terhadap sumber daya alam yang ingin dimaksimalkan jumlahnya. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat adat Kabupaten Fakfak yaitu Suku Mbaham matta telah menyadari pentingnya keberlanjutan sumber daya alam. Masyarakat menyadari bahwa jika semua sumber daya alam diambil secara terus menerus tanpa ada usaha untuk meningkatkan poduktivitasnya, maka suatu saat akan habis juga.

Hanya saja yang menjadi masalah dan bahan diskusi penulis kedepan ialah mengapa budaya kerakera sudah tidak lagi dipraktekkan di beberapa Kampung yang ada di Fakfak dan mengapa hanya di Kampung Adora-Us yang masyarakat lokalnya masih memanen pala dan mengelolanya dengan cara tradisional. Disini penulis ingin memberikan sebuah pemahaman kepada pembaca bahwa, manusia boleh maju dengan teknologi dalam era yang modern seperti saat ini, tetapi jika sampai melupakan dan meninggalkan tradisi lokal setempat yang mempunyai nilai kearifan lokal yang sangat tinggi bagi keberlanjutan lingkungan, maka hal ini sangat disayangkan karena sejatinya apabila seseorang lahir dengan identitasnya maka ia juga harus bisa berkembang dengan teknologi di era yang moderen tanpa harus meninggalkan identitasnya tersebut.